PENDATAAN BERBASIS ONLINE
Fungsi dan peran guru sebagai pendidik,pengajar,pembingbing,penganyom,pembina,sekaligus teman berbagi berbagai macam masalah bagi siswa-siswi disekolah dari era ke era sepertinya selalu mengalami perubahan yang sangat signifikan.Dahulu kala ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar guru merupakan sosok yang mulia,bersahaja dan berwibawa bagi kami para anak didiknya.Sebegitu berwibawanya seorang guru di mata anak didik sehingga tak jarang anak didik melihat sosok guru adalah sosok yang dalam tanda kutip harus di hindari ( karna begitu mulia-nya ) di mata mereka.
Seiring berkembangnya zaman,sosok guru yang mulia dikatakan semakin langka di negeri ini ??Mungkin karena Guru sekarang ini sudah lebih banyak fokus didepan laptop/komputer PC,tablet,smartphone, untuk mendaftarkan data mereka agar nanti dikatakan valid dan layak mendapatkan tunjangan kesejahteraan.Pada hal pekerjaan yang disodorkan oleh pemerintah itu di luar tupoksi mereka sebagai nahkoda, juri mudi atau pilot di dalam kelas yang akan membawa anak anaknya sampai ke tujuan yang mereka inginkan.Sekarang semua guru harus memiliki sertifikikat pendidik agar katanya layak dikatakan sebagai guru yang profesional?? .Hal ini tentu merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu propfesionalisme seorang guru sekaligus sebagai meningkatkan kesejahteraannya. Para guru sibuk mempersiapkan diri agar turut serta sebagai guru yang bersertifikat.Guru yang berusia diatas lima puluh tahun harus mempersiapkan berbagai macam dokumen,kelengkapan perangkat pembelajaran,karya tulis dan berbagai macam ketentuan lainya agar bisa menjadi salah satu peserta calon penerima Sertifikat pendidik ini.Para guru yang lulusan S1 juga tak kalah ketinggalan mengurusi hal tersebut.Hal itu tentu akan berdampak baik bagi peningkatan propesionalisme seorang guru. Akan tetapi tentunya hal ini sedikit banyak mempengaruhi proses belajar mengajar di sekolah.Bayangkan berapa banyak guru yang harus meninggalkan sekolah selama berhari-hari disebabkan oleh pelatihan pelatihan menuju guru propesional ini.Pertanyaanya,"Siapakah yang harus menggantikan posisi mereka didalam kelas ketika mereka mengikuti pelatihan pelatihan tersebut?.Baiklah jika ada beberapa guru kelas disekoah tersebut,yang bisa menggantikan kealpaan mereka selama pelatihan.Tetapi yang manjadi masalah adalah ketika guru di sekolah ( SD Negeri ) yang guru kelasnya hanya berjumah 6 orang ditambah 1 orang kepala sekolah dan satu orang lagi guru Agama,apakah masih ada yang menggantikan posisi meraka didalam kelas?' Belum lagi tidak meratanya penempatan guru disetiap sekolah, apalagi di daerah 3T(Terpencil,terluar dan tertinggal) bahkan hanya memiliki 1 atau 2 orang guru saja, Lalu bagaimana proses belajar mengajar bisa terlaksana dengan baik??
Menurut pengamatan saya,ada beberapa faktor yang membuat kaeadaan guru menjadi (kehilangan wibawa dan dan predikatnya sebagai guru yang propesipnal *) antara lain:
Menurut pengamatan saya,ada beberapa faktor yang membuat kaeadaan guru menjadi (kehilangan wibawa dan dan predikatnya sebagai guru yang propesipnal *) antara lain:
* dikarenakan faktor guru itu sendiri
* karena faktor anak didik
* karena faktor orangtua. peserta didik
* faktor lingkungan
* faktor pemerintah ( Khususnya kementerian Pendidikan )
A. Faktor Guru itu sendiri
Guru saat ini tidak lagi merupakan sosok yang selalu digugu dan ditiru (read:sebagian kecil guru) oleh kebanyakan anak didik dan masyarakat.Hal ini bukan tanpa alasan.Sebegitu sering kita melihat guru yang seharusnya digugu melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji sebut saja melakukan pelecehan sexual, melakukan tindakan kekerasan terhadap anak,menjadi pengedar narkoba atau pemakai narkoba,mucikari,bahkan yang lebih miris berpropesi ganda sebagai PSK ?".Hal-hal semacam ini tentu saja mencorengkan arang hitam pada muka pendidikan kita saat ini.
B. Faktor anak didik
Sebagian besar anak didik pada era kemajuan teknologi saat ini tidak lagi memandang pendidikan sebagai sesuatu yang menarik.Anak didik saat ini kebanyakan lebih tertarik pada IT.Mereka lebih senang duduk manis didepan komputer ,Online Game.Sosial Media,dan Menonton acara televisi yang kurang mendidik seperti sinetron. Hal ini merupakan salah satu faktor yang membuat anak didik kurang peduli terhadap pelajaran di sekolah. Semakin hari hal-hal semacam ini menjadi semakin vertikal pada dunia pendidikan kita.Mereka lebih tertarik game online, dibanding pelajaran yang disuguhkan guru disekolah-sekolah maupun lembaga pendidkan lainya.
C.Faktor Orangtua peserta didik
Orangtua memiliki peran yang sangat penting untuk menjadikan anak memiliki kemauan untuk belajar dan terhindar dari pengaruh buruk perkembangan zaman.Karna pada orangtualah awal pendidikan anak bermula.Jika orangtua mendidik anaknya sejak dini dengan baik dari rumah,maka dia akan menjadi orang yang baik juga diluar rumah.Disekolah dia akan lebih muda dibina oleh guru menjadi pribadi yang pintar serta memiliku karakter yang dibawa dari rumah,soleh dan santun.Namun saat ini banyak orangtua yang sibuk dengan pekerjaanya sendiri,pergi pagi pulang pagi,sehinnga waktu untuk membina anak dirumah selalu terabaiakan*".Anak kehilangan panutannya dirumah,anak kurang perhatian dan kasih sayang.Hal ini tentu berdampak buruk saat Ia berada disekolah.Ia jadi cenderung pendiam dan tidak perduli dengan sesamanya atau mungkin dia merasa menjadi rendah diri atau sebaliknya dia merasa menjadi orang yang bebas karena dirumah dia selalu bebas melakukan apapun yang dia mau tanpa perhatia orangtuanya.
D.Faktor Lingkungan
Ada istilah " buah jatuh tak jauh dari pohonya "Manusia berkarakter, terdidik ,terampil,atau sebaliknya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.Lingkungan menjadi salah satu faktor yang tidak kalah pentingnnya unutk membangun karakter seorang anak.Jika orangtua abai dan tidak jeli melihat keadaan sekitar lingkungan,maka anak -anak menjadi taruhanya.
E. Faktor Pemerintah ( Khusunya Kementerian Pendidikan )
" Ganti menteri Pendidikan Ganti pulalah Kurikulum pendidikan ??".Kenyataanya memang demikianlah adanya.Mulai orde lama hingga reformasi saat ini hal demikian diatas selalu terjadi.Saat ini di jaman era Muhammad Nuh hinnga Anis Baswedan kurikulum telah mengalami pergantian sebanyak dua kali.
Bukan cuma itu saja ,yang paling miris adalah berbagai pendataan online bagi semua pendidik dan tenaga kependidikan yang harus mengisi data-data secara online yang seharusnya bukanlah tupoksi dari guru itu sendiri.Hal ini bisa menjadi pemicu semakin tertinggalnya PBM disekolah dan semakin tak berdayanya guru melawan arus perkembangan zaman (IT) yang mengharuskan mereka sibuk dengan berbagai macam data yang harus mereka isi secara online.
Alhasil saat ini Guru mulai kehilangan hak ke-guruanya , demi perbaikan data online agar apa yang sebenarnya merupakan haknya tidak hilang ditelan yang namanya ke-Tidakvalidan DATA ONLINE yang mengakibatkan tunjangan sertifikat mereka tidak cair.Apakah data online ini perlu ditinjau kembali??".**********************
Kembalikan kewibawaan guru dengan tidak mencampur baurkan sesuatu yang sebenarnya bukanlah tupoksi terpenting mereka. Karena bukankah seharusnya pemerintah yang melakukan monitoring dan pendataan seluruh guru di tanah air Indonesia ini melalui Kemendikbud kemudian ke Dinas Pendidikan, lalu ke unit terkecil yaitu UPTD Pendidikan di setiap kecamatan agar guru kembali dapat dengan leluasa melakukan tugasnya sebagai pendidik,pengajar,dan penganyom bagi anak didiknya, tanpa harus terbebani dengan pendataan online yang tidak tepat sasaran karena toh tidak semua guru yang tinggal di kota yang dapat sinyal internetan, kebanyakan dari mereka tinggal di daerah yang sangat sangat terpencil. Jangankan jaringan internet, bahkan aliran listrik aja di tempat mereka masih belum tersentuh sama sekali. Jadi tolong buat para petinggi pendidikan supaya lebih peka terhadap keadaan dan situasi guru agar hal seperti ini dipertimbaangkan kembali kedepanya. Agar guru dapat melaksanakan tupoksinya dengan baik dan benar di lapangan tanpa harus memikirkan hal hal diluar kemampuan mereka.
Horassssssssssssssssss.